
Di negeriku langit selalu tampak bercahaya, dari jauh cahaya itu sekilas akan tampak indah, berwarna-warni menghias angkasa. Namun, siapa sangka? Ternyata cahaya itu datang meminta ribuan tumbal nyawa. Nyawa dari manusia-manusia yang jiwanya tidak pernah merasakan takut tatkala suara-suara raksasa dari rudal-rudal melebur bersama suara-suara senapan yang menebarkan ratusan peluru, menyayatkan sembilu atas ribuan nyawa. Pembantaian atas kegilaan kemanusiaan itu datang dari sebuah kelompok calon penghuni neraka abadi. Mereka datang dengan hasrat kebinatangan, bukan lagi kerasukan, naluri kebinatangan itu telah menelusup, menjalar, bahkan telah mendarah daging dalam diri mereka. Hingga sebuah nyawa kaumnya tidak lebih berharga dari seekor nyamuk yang harus segera dimusnahkan.
***
Namaku Arifin Abdur Rahman, keluarga, teman-teman dan orang-orang sering meledekku Maman. Maman? Benar-benar panggilan yang buruk, aku tidak terlalu menyukainya, mungkin karena ada suku kata ‘Man’ di nama belakangku. Ah sudahlah.. lupakan. Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah setelah lebaran. Kupercepat langkahku karena aku ingin segera bertemu dengan teman-temanku. Benar saja, aku langsung mendapat sambutan hangat, kami saling bercerita, bercanda, dan tertawa bersama. Itu adalah hal yang kita lakukan untuk melampiaskan kerinduan, mungkin juga sangat tepat untuk menghilangkan rasa penat. “Wooyyy… Kemana saja kamu? Kog tidak pernah main ke rumahku?” teriak seseorang dari belakang yang ternyata Ali, seorang sahabat yang dari kecil selalu bermain bersamaku. “Maaf, aku sibuk di rumah, habis rumah kamu jauh. Hehehe…” jawabku bahagia sekali melihatnya. Ali memelukku erat sekali, kami mengobrol panjang lebar, ia sedang dilanda masalah, terlihat jelas dari raut mukanya yang sedih sekali, ayah dan ibunya bercerai beberapa hari yang lalu, dan rumahnya dilahap si jago merah, benar-benar hari yang berat untuknya. Aku berusaha untuk menghiburnya, ia merasa kesepian dan tidak lagi mempunyai tempat sandaran hati. “Al, kamu jangan merasa sendiri dan jangan merasa sepi, ada Allah yang selalu menemani dan selalu mengawasi. Jika kamu sedih jangan pendam dalam dalam hati, ada Allah tempat berbagi.” Ucapku sambil tersenyum. “Terimakasih kawan, kamu memang sahabatku.””Hehehe.. biasa lah, kita kankan pren, kita main bola yuk, udah lama banget kita nggak main bola bareng. Kita ajak kawan-kawan yang lain Ahmad, Lukman, dan Syarif. Aku juga sudah rindu sama mereka.” Kataku. “Oke, kamu ajak teman-teman di lantai atas dan aku yang dilantai bawah, kita bertemu di lapangan.” Perintahnya. “Yes sir.” Jawabku singkat sambil berdiri dan segera berlari menuju lantai atas. “Oiya satu hal lagi, ajak teman sebanyak-banyaknya ya..” teriak Ali.
***
Lega sekali rasanya bila pulang dengan hati bahagia. Setelah makan siang, aku melanjutkan hafalan bacaan al-quranku sebelumnya sampai merasa mengantuk, baru aku beranjak pergi ke tempat tidur. Paginya sebelum dan sesudah sholat subuh, kubuka lagi lembar demi lembar al-quran untuk memperkuat hafalan bacaanku. Menjadi penjaga al-quran, itulah mimpi berjangkaku, cita-citaku. Malam itu setelah aku menyelesaikan tugas-tugasku, aku merebahkan diriku di kasur empuk tempat tidurku, kupadamkan lampu kamarku dan tidur. “Man, ayo kita jalan-jalan.” Teriak seorang sahabatku, Ali. “Kemana?” jawabku. “Udah ikut aja”. Akhirnya aku diajak pergi ke sebuah tempat yang penuh dengan orang-orang berbaju hitam. Bau mereka seperti kotoran-kotoran kuda. “Kenapa kamu kesini? Ayo kita pulang!” Ali hanya diam tidak menghiraukanku, akupun berjalan meninggalkannya, pulang ke rumah walau harus berjalan kaki. Ada sesuatu yang salah saat aku pulang ke rumah. Jalan terasa sangat jauh sekali, dan mendadak aku berada di tepi jurang yang gelap dan kulihat seseorang yang mirip dengan ayahku, aku berlari menjauhi jurang itu mecoba mencari jalan pulang ke rumah. Akan tetapi, berat sekali rasanya melangkahkan kedua kaki ini. Aku berada di tengah hutan dan aku tersesat. Dalam keputusasaan itu, seseorang menepuk bahuku dari belakang. ia adalah seorang wanita, wajahnya tidak bisa kukenali karena ada cahaya yang sangat menyilaukan mataku dari belakangnya. ‘Allahu Akbar.. Allahu Akbar..’ adzan subuh sudah berkumandang, aku terbangun. “Cuma mimpi..” ucapku lirih. Segera kuambil air wudhu dan berangkat ke masjid yang tidak terlalu jauh dari rumahku.
Sejenak kulihat ayah yang sedang mengemasi barang-barang ke dalam ranselnya. Ayahku adalah orang yang sangat aku benci, Ia selalu pergi sesudah subuh dan pulang tengah malam. Kadang beberapa hari tidak berada di rumah. Dalam pikiranku, ia adalah ayah yang tidak bertanggung jawab sebagai kepala keluarga karena selalu menelantarkan pekerjaannya di rumah. Paling-paling aku yang disuruhnya. Sekali berada di rumah ia selalu memarahiku, mungkn karena aku yang terlalu mempedulikan urusanku tanpa membantu ibu dan adik saat ayah tidak berada di rumah, sebenarnya itu adalah bentuk rasa kesalku, ayahku memang seorang yang tidak peka. Tanpa kusadari, ayah menatapku, berjalan ke arahku. Segera kuraih sendok dan memasukkannya ke dalam mulutku, pura-pura tidak tahu. “Man, hari ini kamu belajar di rumah. Semua sekolah meliburkan siswanya.” Kata Ayah dengan lembut membuatku mati gaya. Aku terus makan dan tetap jaga image di depan ayahku. “Keadaan di luar sangat berbahaya. Para pengacau itu kembali muncul. Ayah harap kamu tetap di rumah bersama ibu dan adik-adikmu. Ayah mungkin akan pulang setelah beberapa hari kedepan, sampai ayah menumpas para pengacau itu, atau sampai mereka lari dan keadaan kota kembali aman. Lindungi ibu dan adik-adikmu apapun yang terjadi.” Kata ayah dengan tegas sembari mengembangkan senyumnya. Ibu yang sedari tadi berada di dapur menangis sejadi-jadinya setelah mendengar penuturan ayah. Sebenarnya ini bukan kali pertama ayah pergi meninggalkan rumah selama beberapa hari, tapi entah mengapa ibu seperti mempunyai firasat lain. Kulihat ibu memeluk ayah erat sekali, mungkin itu adalah pelukan terakhir. Tidak.. aku tidak boleh berpikir sembarangan. Ayah pasti kembali. Setelah berpamitan, ayah berangkat bersama para pengawalnya. Ayahku adalah seorang yang mengabdikan hidupnya, jiwa, raga dan seluruh hartanya untuk melindungi negeri ini. Ia mendapat tanggungjawab yang sangat besar menjadi panglima perang yang harus menghancurleburkan pengacau yang telah meggerogoti negeri ini. Para pengacau itu adalah orang-orang yang menganggap diri mereka Islam yang sebenarnya, Islam sejati. Mereka menyebut diri mereka Negeri Islam Jaya. Mereka ingin menjadikan seluruh dunia ini mengikuti ajaran-ajaran sesat mereka. Jika ada yang berani menentang, maka mereka tidak segan-segan untuk menarik pelatuk dan membunuhnya. Bahkan seseorang yang sudah berada dalam kelompoknya yang dianggap menyimpang dari ajaran-ajaran mereka akan dibunuh dengan cara-cara yang kejam.
Tidak banyak yang bisa aku lakukan jika berada di rumah selain tidur, menonton tv, atau mencari kesenangan lainnya. Aku memilih membaca al-quran sambil menghafalkannya karena suatu saat nanti aku ingin jadi Imam besar atau Pemimpin besar yang hafal al-quran. Pilihan yang besar membutuhkan investasi, dan konsekuensi yang besar pula. Jadi kutinggalkan semua kesenangan semu yang hanya bersifat duniawi. Tiba-tiba “Booomm”. Suara itu begitu mengagetkanku saat aku tengah membaca al-quran, tanah serasa bergoyang dan rumah terlihat bergetar meskipun menurut dugaanku asal suara itu sangat jauh dari sini. Sudah dimulai, pikirku. Pengacau-pengacau itu sudah pernah menyerang kotaku sebelumnya. Mereka memang sulit untuk dikalahkan karena senjata dan peralatan perang mereka yang cukup memadai. Sekian detik kemudian terdengar suara rentetan peluru dan ledakan-ledakan yang lebih kecil dari kejauhan. Aku hanya bisa berdoa atas keselamatan para mujahidin dan juga keselamatan ayahku. Bagaimanapun juga, dia tetap ayah yang tiada gantinya bagiku.
***
Hitungan waktu telah menunjukkan Bulan Rabiul Awal. Itu berarti sudah 3 tahun ayahku pergi ke medan jihad. Akupun sudah mengungsi ke tempat lain yang belum sempat dijangkau oleh tangan-tangan calon penghuni neraka, karena tempat tinggal yang menjadi tanah kelahiranku itu sudah luluhlantak dengan sisa puing-puing yang berserakan, sungguh biadab. “Abdur Rahman!” Teriak seseorang dengan suara yang menggelegar. “Apakah kamu Abdur Rahman?” katanya lagi. “Ya, itu memang nama saya.” Jawabku. “Kamu harus ikut kami ke markas.” Ucapnya tanpa basa-basi. Aku hanya diam dan menganggukkan kepala. Kami lalu berangkat ke markas tentara mujahidin dengan menempuh perjalanan selama 1 hari berjalan kaki, dengan rombongan sekitar 100 pemuda yang dipanggilnya tadi dan 20 orang bersenjata sederhana AK-47 yang melindungi kami sewaktu-waktu ada musuh yang mendekat. “Abdur Rahman..” teriak seseorang yang berlari kearahku yang membuatku terkejut ketika dia memelukku. “Sudah besar sekali kamu nak.. Lama kita tidak berjumpa.” Ucapnya bercampur dengan isak tangis. “Ayah..”. Kami berpelukan dan menangis melepaskan kerinduan. Ayah bertanya banyak sekali padaku, hari ini dia begitu lemah lembut dan terlihat sebagai sosok yang penyayang. “Sudah waktunya.” Ayah membuka percakapan. “waktu apa yah?” “Waktu untuk kamu ikut sebagai seorang mujahid yang membela dan mempertahankan tanah air serta menegakkan panji-panji Islam di bumi pertiwi. Kelak kamu harus menggantikan ayah nak. Tentara-tentara NIJ telah berhasil mengambil alih pemerintahan. Dan bahkan hampir 70% tanah kita berada dalam cengkraman NIJ.” Sangat terkejut aku mendengar penuturan ayah. Hati kecilku berkata “Andai saja aku bisa mengangkat gunung-gunung di bumi ini. Niscaya akan ku lemparkan diatas tentara-tentara NIJ.” Akh, sayangnya semua itu hanya khayalanku. Aku harus tetap berjuang mengangkat senjata untuk menumpas gerakan mereka sampai titik darah penghabisan. Itulah tekadku. Tekad seorang pejuang.
***
Tepat setelah shalat subuh kami bersiap untuk mengadang konvoi NIJ yang diperkirakan akan lewat tidak jauh dari markas kami. Akan tetapi, saat itu aku mendengar deru puluhan kendaraan mendekat kearah markas kami. Aku langsung berteriak, “Musuh datang! Musuh datang!” Dan semua pasukan mujahidin lari kocar-kacir meraih senjatanya masing-masing. Aku terkejut. Kami semua terkejut, bergerak ke posisi masing-masing. Tak kusangka mereka membawa puluhan tank-tank termasuk tank Merkava yang terkenal sebagai tank terhebat di dunia yang diikuti 1000 tentara juga beberapa heli tempur Apache yang melindungi mereka. “Duuaarrr!!!” Salah satu tank mereka meledak dasyat ketika terkena ranjau darat yang memang telah dipasang untuk menjerat musuh. “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” teriakan serempak para mujahidin. Baku tembakpun di mulai. Granat dan rudal dilemparkan bagai guguran daun yang tidak pernah berhenti. Derasnya hujan peluru membuat kami tidak mendengar jeritan-jeritan kematian. Bau anyir darah yang bercampur dengan bau asap bubuk mesiu menjadi begitu harum bagai bunga-bunga surga. Ohh.. Inilah surga. Surga dunia yang sesungguhnya. “Wahai saudara-saudaraku bertarunglah kalian dengank gagah! Serahkan jiwa dan raga kalian! Hempaskan kaum kafir ini agar hengkang dari tanah air kita! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” teriak ayahku untuk menjaga semangat para mujahidin yang sudah tampak mulai lelah dan kepayahan menghadapi bantuan pesawat F-16 yang datang. Dor.. Dor.. Tar.. Tar.. rentetan peluru masih saja menghujani medan pertempuran. Pasukan mujahidin mulai kehabisan peluru. “Ayah! Awas..” teriakku ketika melihat sebuah granat menggelinding di dekat kaki ayahku. ‘Blaaarr’ granat itu meledak seketika sebelum ayah menyadarinya. Aku berlari menghampiri tubuhnya yang roboh bersimbah darah. Tidak kuasa kubendung air mata saat melihat sebagian tubuhnya yang hancur. “Munduur! Munduur!” teriak Paman Abdullah. Kami semua berlari meninggalkan medan pertempuran dan dengan terpaksa menuju desa di belakang kami. “Hahahaha… Cukup! Biarkan pengecut-pengecut itu lari.” teriak pemimpin mereka dari atas mobil jeep menghentikan langkah pasukannya. Kuperhatikan lagi wajahnya, bentuk tubuhnya dan suaranya. Akupun berhenti. “Ali? Apa itu Ali?” batinku. Ya benar. Dia adalah Ali. Seseorang yang dulu selalu bermain bersamaku, sahabatku. “Apa yang kamu lakukan? Ayo pergi sebelum mereka mengulitimu!” kata Hasan sembari menarik tanganku menyadarkanku dari lamunanku.
Waktu terasa sangat cepat, aku tidak menyangka orang yang sebegitu menyayangiku telah pergi menghadap wajah sang Ilahi. Ya, Ayahku telah tiada, kini harus kulalui hari-hari penuh kesedihan tanpa seorang pahlawan. Sahabatku, aku juga merasa kehilangan seseorang yang dulu selalu bermain bersamaku dan sekarang telah berubah menjadi musuh sejatiku. Hawa dingin menusuk tulang saat jemariku menyeka air mata yang berlinang. Kucoba tenangkan diri, kendalikan emosi, dan segala hal yang mengganggu hati ini. Kuambil air wudhu, ingin kumenghadap-Mu, karena aku ingin bicara pada-Mu Ya Tuhanku. Dalam sujud terakhirku, aku memohon pada-Mu ampunilah dosa-dosaku, hanya Engkaulah Sang Penyejuk kalbu. Aku berjanji dengan menyebut asma-Mu, akanku tegakkan agama-Mu dan akanku hancurkan musuh-musuh-Mu. Karena aku sudah tahu apa tujuan hidupku, mati dijalan cinta-Mu, menuju surga Firdaus-Mu. Di tengah kesedihanku, seseorang menepuk bahuku dari belakang. “Tabah dan sabarkan hatimu Man. Allah senantiasa melindungi kita semua dan Allah selalu beserta orang-orang yang sabar.” Aku menoleh ke belakang dan ternyata “Ibu..” kataku sambil melompat memeluknya. “Bagaimana ibu bisa ada di sini?” “Ibu terpisah dari rombongan saat lari dari kejaran NIJ. Dan dengan pertolongan Allah, ibu bisa sampai disini.” “Lalu, bagaimana dengan adik-adik dan keluarga kita?” “Mereka semua aman nak. Kita harus tetap yakin.” Kemudian kupandangi wajah ibu. Ada yang berbeda, kali ini banyak sekali keriput di wajahnya. Ibu semakin menua. “Bu, Ayah..” kataku tak mampu membendung derasnya air mata. Tapi, sebagai seorang pemimpin aku harus mencoba untuk tetap tegar. “Iya nak. Ibu sudah tahu. Al-Bashri yang menceritakan pada ibu kisah kepahlawanan ayahmu. Kita tetap harus sabar menghadapinya. Semoga Allah menerima semua amal baik dan menghapus semua dosa dan kesalahannya.” Jawab Ibu sambil menitikkan air mata. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Seperti pernah mengalami perstiwa ini sebelumnya, seperti de javu. Benar, aku pernah memimpikan peristiwa ini dulu, persis seperti apa yang terjadi. Subhanallah.. Allahu Akbar… Allah telah menunjukkan kebesaran-Nya padaku, itu berarti Allah sangat menyayangiku dan aku tidak akan menyia-nyiakannya. Akan kulakukan apa yang terbaik untuk membebaskan agama dan bangsaku dari cabik angkara murka dan cengkraman durjana.
***
Tengah malam yang dingin, benar-benar sangat dingin. Malam ini berbeda dari biasanya. Setelah melaksanakan shalat tahajjud, para mujahidin berkumpul di halaman masjid. Cukup banyak, sekitar 700 orang. Kami akan menyerbu pasukan NIJ di pos selatan. Markas yang cukup strategis yang menutup jalur utama para mujahidin, sehingga bala bantuan yang datang dari luar tidak akan pernah bisa sampai kepada kami. Termasuk bantuan pangan, sandang, obat-obatan juga amunisi dan senjata. “Laa haulaawalaa quwwata illaabillaahil ‘aliyyil ‘adzim.. Allahu Akbar!! Allahu Akbar!! Maju!!” Tar.. Tar.. Tar.. Hujan peluru tak bisa ditahan. RPG dan roket kami membuat para penjaga kalang kabut. Banyak dari mereka yang tewas seketika. Mereka yang keluar dari markas dalam keadaan setengah sadar harus langsung menghadap sang Ilahi karena peluru-peluru kami tidak pernah berhenti. Mereka kemudian menggunakan tank-tank yang diparkirkan di belakang markas mereka. Namun naas, ‘Duaarrr’ ‘Blaaammm’ ‘Duaaaarr’ tank-tank mereka meledak dasyat menjadi serpihan-serpihan besi berkat ranjau yang dipasang penyusup kami sebelum penyerangan dimulai. “Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!!” pekikan takbir terus menjaga api dalam jiwa kami. Namun tanpa kami duga, pesawat pem-bom terbang dari belakang yang membuat kami lari pontang-panting mencari tempat perlindungan. Puluhan bom dimuntahkan dari perut pesawat. Banyak mujahidin yang menemui kesyahidan. “Bangsat!! Pengecut!!” ucap Hasan yang sudah naik pitam. “Tenang Hasan! Kita akan balikkan keadaan. Saudara-saudaraku hendaklah kalian teguh, menghadapi kaum kafir ini. Serahkan ruh kalian dengan sukarela, untuk mencari keridhaan Allah, jadilah syuhada bangsaku yang menyuarakan derap langkah perjuangan. Pengorbanan itu, jalan menuju kebebasan, tanah air yang kita cintai, dan agama kita yang mulia harus ditebus dengan aliran darah! Janganlah kalian takut kepada musuh-musuh Allah yang keji seperti ini. Hanya dua yang menjadi pilihan kita, kemenangan atau kesyahidan. Ingatlah!! Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kita, maka kita akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang sabar di antara kita, maka dengan izin Allah kita akan bisa menghancurleburkan seribu orang musuh!! Jangan ragu, jangan takut, hancurkan musuh-musuh Allah, hancurkan mereka semua. Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!!” Dor.. Dor.. Dor.. Tar.. Tar.. Tar.. Kata-kataku membuat para mujhiddin menyala-menyala, mereka terus merangsek ke depan tidak memperdulikan bom yang berjatuhan. Musuh semakin ciut nyalinya melihat kami tidak takut mati. ‘Blaaaarrr’ pesawat pem-bom itu akhirnya jatuh hancur berkeping-keping terkena roket kami. Musuh lari terbirit-birit. Meninggalkan markas yang menjadi penggorok leher tersebut. Meninggalkan luka yang cukup dalam bagi mereka. Pekikan takbir dan rasa syukur kami panjatkan kepada Allah yang tiada daya dan upaya selain kekuatan Allah.
***
Sejak saat itu, bala bantuan semakin banyak yang datang. Wanita, anak-anak dan orang tua kini bisa hidup lebih baik. Serangan demi serangan terus kulakukan karena menjadi anak tangga yang akan mengantarku menuju tujuan utama, membebaskan bangsa dan agamaku dari cengkraman durjana. Hanya satu yang sekarang menjadi perhatianku, Ali. Dia sudah menjadi pemimpin besar sepertiku. Kuharap suatu saat nanti aku bisa bertemu dengannya. Menjadi seorang pemimpin sebenarnya bukanlah cita-citaku, akan tetapi harus kulakukan demi mendapat ridha-Nya. Aku senang bisa membuktikan cintaku kepada Allah di jalan-Nya. Di Jalan cinta Seorang Sejuang.